Friday , September 22 2017
Home > Gaya Hidup > Sebuah Kabar Indah Tentang Masa Depan

Sebuah Kabar Indah Tentang Masa Depan

Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu-waktu yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat-tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama saya Robin, saya merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon-pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, saya menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki saya untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.

Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan saya dan orang tua saya yang semula tidak menyetujui saya untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua saya khususnya ayah saya menginginkan agar saya bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha orang tua saya yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan saya untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat saya bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.

Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup saya kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki saya menaiki sebuah kereta yang mengantarkan saya menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup saya….
Dan percayalah ketika saya menuliskan ini semua, saya tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang saya tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, saya hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.

Juli 2017, Irama langkah kaki saya bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, saya mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang saya butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari-hari saya setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata saya mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan saya, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup saya memasuki dunia kerja.
“hallo selamat siang, dengan bapak Robin” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“benar mbak, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“saya Jesika pak, kami dari perusahaan PT.AGIN RIBUT, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali saya berpikir dan mencoba mengingat kembali surat-surat lamaran yang pernah saya kirimkan, ingatan saya masih bisa mengingat perusahaan-perusahaan yang pernah saya layangkan surat lamaran kerja, dan menurut saya perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalam list surat lamaran kerja yang saya layangkan.
“aneh, ah masa bodo, yang penting saya jalanin aja dulu ” gumam saya, hingga akhirnya saya tertidur dikursi kereta yang mengantarkan saya ke stasiun bogor.
Mama : “wah tumben sudah rapih pagi-pagi Rob” tegur mama ketika melihat saya yang sudah rapi dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri.
Robin : “iya mah, hari ini ada panggilan kerja”
Mama : “Alhamdulillah Rob, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima ya Rob” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa.
Ridwan : “diantar mang http://www.asalqq.orgaja Robin, biar tidak telat” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang Ridwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami.
Robin : “haduh jangan pak, biar Robin sendiri aja sekalian biar tau jalan” jawab saya menolak tawaran itu.
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera saya pergi menuju perusahaan tempat saya akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan saya lakukan pukul 11.00, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan saya habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan saya untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 09.45 akhirnya saya tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan.
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan saya, akhirnya saya dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu saya manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah saya pelajari.
“bapak Robin, mari ikut saya” tegur seorang wanita yang mempersilahkan saya untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview.
“silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang”, ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi.
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah saya masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang saya lihat memasuki ruangan
“lohh mas Dodi..?” ucap saya heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan saya, mas Dodi merupakan senior saya yang telah lulus 1 tahun lebih cepat dari saya.
“kaget ya Bin ?”
“iyalah mas, soalnya seingat saya, saya belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas Dodi tersenyum mendengar jawaban saya.
Hingga akhirnya mas Dodi menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan saya untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong.
Dodi : “bagaimana bin?” tampak mata mas Dodi mencoba memperhatikan saya.
Robin : “ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya saya harus bicara sama kedua orang tua saya dulu”.
Dodi : “lu udah dewasa bin, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri dan jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata kamu sia-siakan karena keraguan kamu”. terang mas Dodi kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat saya.
Dodi : “kalau kamu berminat, sekarang juga saya minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena saya memang lagi butuh cepat”.
Lama saya berpikir mencoba menimbang semua omongan mas Dodi, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah saya berpikir lama akhirnya saya memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua saya akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui.
Robin : “baik mas, saya terima” sebuah senyuman terlihat dari wajah mas Dodi.
Dodi : “gitu dong bin, baik saya ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat-surat2nya”,ucap mas Dodi sambil menepuk bahu saya dan pergi meninggalkan saya.

Setelah semua surat surat kontrak telah saya tanda tangani, mas Dodi segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan saya lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan saya lakukan setibanya saya di kantor cabang.
Dodi : “kamu ditraining dulu selama seminggu bin, tenang saja saya yakin kamu bisa” ucap mas Dodi antusias.
Robin : “insha allah mas, jadi kapan saya berangkat?
Dodi : “seminggu dari sekarang bin, kamu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua kamu”
Robin : “siap mas, terima kasih atas bantuannya”.

Dan akhirnya saya meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, saya diterima kerja dan saya akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua saya dan tidak lupa kepada Maya yang telah menjadi pacar saya selama kuliah.
Robin : “mah, saya diterima kerja ” ucap saya sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mama yang sedang bersantai diruang tamu.
Mama : “Alhamdulillah bin..” jawab mama sambil memeluk saya.
Bapak : “selamat bin, selamat jadi lelaki dewasa” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat.
Kegembiraan itu tidak berlangsung lama, ketika saya menerangkan tentang penempatan kerja saya
Bapak : “memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta bin, bapak sama mama mu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta saja atau kamu nerusin usaha bapak” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap-ngelap keris yang terlihat sudah tua, memang bapak adalah pengkoleksi keris-keris tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya.

Setelah saya menerangkan tentang keinginan saya untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mama mengijinkan saya untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini.
Bapak : “kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan.
Robin : “minggu depan pak, mohon restunya pak, ma”.
Mama : “iya bin, bapak sama mama restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana” ucap mama kembali memeluk saya disela-sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan saya, dengan diantar oleh mang Ridwan dan Maya, segera saya menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan saya ke jawa timur, sepanjang jalan terlihat wajah Maya yang agak berat melepas kepergian saya, hingga akhirnya kami pun tiba distasiun kereta.
Maya : “jangan lupa kasih kabar ya” ucap Maya sebelum melepas saya menaiki kereta.
Robin : “doain saya ya…semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama saya kesana” ucap saya sambil memeluk Maya kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki saya mantap menaiki kereta
“Selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses” doa gw didalam hati.

Check Also

restoran

Restoran, Bar Dan Hotel Yang Terbaik Ada Di Perancis

Daerah dataran rendah di utara Perancis ini selamanya dikaitkan dengan peringatan perang dunia pertama, namun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *