Home > Cerita Horor > Mewarisi Ilmu Sakti Dari Kakek Untuk Cucu Wanita
Wanita
(Sumber : www.asalqq.com) Mewarisi Ilmu Sakti Untuk Cucu

Mewarisi Ilmu Sakti Dari Kakek Untuk Cucu Wanita

Apa salahnya menjadi cucu Wanita dari orang yang Mewarisi Ilmu Sakti Dari Kakek ? Tapi Cucu dari ‘orang yang sakti’ sangat berbeda dengan cucu orang biasa. Dia bisa mewarisi ilmu sang kakek tanpa harus susah-susah belajar dan hanya tinggal mengasah saja dan kemudian dia pun bisa ‘sesakti’ kakeknya. Masalahnya, tidak semua cucu yang ‘terpilih’ mau mewarisi ilmu sang kakek dan di sinilah, masalah kemudian muncul. Keengganan itu berbuah menjadi petaka, sang cucu pun didera sekian macam gangguan dan Sering juga kesurupan, emosionalnya tinggi, hingga sakit fisik lainnya. Seperti yang dialami oleh Lisa.

Pada tahun 2015, Lisa kesedihan menyeruak di tengah makam karena tubuh saudara sepupu saya sedikit demi sedikit tertimbun tanah. Tepat di samping makam paman yang telah mendahuluinya, kemuadian Keheningan menyelimuti acara pemakaman itu dan tidak terdengar kegaduhan dari puluhan orang yang mengelilingi makam. Pada saat yang hening itu, saya dikejutkan oleh suatu pemandangan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Almarhum paman menangis di dalam kuburnya dan saya tidak mempercayai pandangan mata saya.

CUCU WANITA ORANG YANG AKAN MEWARISI ILMU SAKTI

Berkali-kali saya usap mata ini, tapi pemandangan memilukan itu masih terlihat, kemudian Almarhum paman menangis di dalam kuburnya. Saya sangat gelisah dan Keringat dingin mengucur perlahan, membasahi kulit, kemudian setelah itu, saya pun tidak tahu apa yang terjadi. Tubuh saya terkulai lemas dan tidak ingat apa-apa lagi, setelah itu ibu berkata, suasana makam semakin menakutkan. Orang-orang yang ikut mengantar ke pemakaman terkesima, namun, tidak banyak yang mereka lakukan dan Mereka hanya membiarkan saya tergolek sebelum akhirnya tersadar kembali setelah itu saya pun pulang ke rumah dengan badan lemas.

Tidak apa-apa, Lisa tidak sakit, Dia punya ilmu keturunan, kata seorang dukun kepada ibu, yang Kebetulan, saat itu memang ada seorang dukun yang ikut melayat. Dialah yang kemudian menenangkan keluarga, agar tidak terlalu mencemaskan keadaan saya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan kemudian tidak lama lagi Lisa akan sadar dengan sendirinya,” katanya menenangkan. llmu warisan? Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak terpikirkan muncul dengan sendirinya, kemudian Pertanyaan demi pertanyaan terus menyusul. Membawa saya mengenang kembali kisah heroik kakek, mantan anggota KNIL yang bergabung dengan lndonesia. Di masa perang kemerdekaan, kakek yang katanya bisa menghilang, sering mendapat tugas di barisan depan. Selain itu, kakek juga memiliki ilmu merubah rupa dan terkadang kakek menyerupai macan dan di lain saat menyerupai kera.

Itulah sebagian dari kisah kakek yang saya dengar dan Suatu hari, ketika saya melihat gambar kera putih yang terkenal dengan sebutan Hanoman, saya langsung teringat dengan keris kakek yang gagangnya menyerupai kepala kera. Selain memiliki 2 bilah keris dan delima merah, kakek juga menanam bunga wijaya Kusuma di depan rumah, karena bunga itu mendapat perlakuan khusus dari kakek. Selama ini, saya kurang akrab dengan kakek, lantaran kesibukannya yang menyita waktu sebagai perwira menengah di dinas militer. Ramalan dukun itu pun saya anggap angin lalu semata dan seiring dengan berjalannya waktu, kesibukan kakek kian berkurang. Beliau yang sudah sepuh itu banyak menghabiskan waktu di rumah.

Hingga ketika saya main ke rumahnya, di daerah Bogor, Jawa Barat ada kesempatan untuk bertemu dengannya, dan dalam pertemuan-pertemuan singkat itu, saya merasa ada yang berbeda dengan tatapan mata kakek, tidak seperti cucunya yang lain. Kakek selalu menatap saya dengan tajam selama Sepuluh menit lamanya mata yang tajam itu menatap saya dan tanpa kata tanpa suara. Ditemani 2 Makhluk Hitam Aneh, pengaruh tatapan itu langsung terasa, kemudian badan saya menjadi berat, Seakan ada beban yang merasuk ke dalam diri saya. Di lain kesempatan tanpa alasan kakek ingin melihat telapak tangan saya “Lisa, sini! Mbah mau lihat tanganmu,” ujar kakek. “Ada apa Mbah?” Tanya saya sambil mendekat. “Sini! Mbah mau lihat tanganmu.”

Kakek menatap dengan seksama telapak tangan saya, kemudian saya pun dibuatnya keheranan, “Kamu bakalan jadi orang hebat,” kata kakek memecah kebisuan. Saya tidak tahu, apa yang dimaksud dengan menjadi orang hebat itu dan Apakah itu pertanda bahwa perkataan dukun dulu akan terbukti? Lalu mengapa harus saya yang terpilih? Mengapa bukan kakak lelaki saya? Seiring dengan bertambahnya usia, kakek semakin sering sakit-sakitan. Hubungan saya dengan kakek pun semakin dekat dan bila ada kesempatan, saya selalu menjenguk kakek dan mengurus segala keperluannya.

Sebaliknya perhatian kakek kepada saya pun semakin besar dan seperti yang terjadi di suatu malam, saat saya sedang tiduran sambil membaca majalah, kakek menghampiri dan menyelimuti saya. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak saya melihat 2 makhluk laki-laki dan perempuan menghampiri. Badannya yang hitam menghalangi saya melihat wajahnya dengan jelas. “Kami akan menjadi temanmu dan Kami akan menjagamu,” itulah kata-kata yang sempat saya dengar sebelum kedua makhluk itu menghilang. Keesokan harinya saya bercerita kepada kakek, “Mbah, semalam Lisa disamperin 2 makhluk hitam,” kata saya. “Tidak apa-apa, Mereka itu teman,” jawab kakek acuh tak acuh.

Saya masih tidak mengerti dengan maksud kakek, tapi untuk bertanya lagi saya segan dan saya biarkan semuanya mengalir seperti air begitu saja. Suatu hari, saya merasakan ada getaran-getaran aneh, kemudian Saya menangkap sebuah firasat buruk yang akan terjadi. “lbu, hari Rabu Mas Ali kan menikah, hari Sabtunya giliran Mbah Kakung meninggal.” Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa dapat saya cegah, kemudian lbu sempat marah mendengarnya. “Lis, hati-hati kalau bicara, nanti bapak bisa marah. Orangtuanya dibilang mau meninggal,” kata ibu. “Ntar ibu lihat saja,” jawab saya tidak mau mengalah. Firasat saya itu pun meniadi kenyataan dan Seminggu kemudian kakek meninggal, tepat di hari Sabtu. lbu hanya geleng-geleng kepala melihat apa yang terjadi. Akhirnya bersama dengan ibu, saya segera bergegas ke Depok, Meski sudah mendapat firasat kakek akan meninggal, tapi di hari Sabtu itu saya tidak menemaninya, Karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggal.

Saat menghadiri pemakaman, keanehan yang terjadi beberapa tahun lalu kembali terulang, Rombongan pelayat berseragam prajurit kraton mengelilingi makam kakek. Kehadiran mereka sepertinya tidak diketahui oleh orang-orang yang saat itu menghadiri pemakaman. Pasukan bersenjata yang telah bersiap-siap memberikan penghormatan ala militer pun tidak terusik dengan kehadiran prajurit ghaib itu. Semuanya tenggelam dalam perasaan masing-masing dan kemudian rentetan tembakan salvo terdengar mengiringi pemakaman kakek, kemudian Suasana kembali sunyi. Pada saat itulah saya mendengar suara seekor monyet nampak berusaha mendekati saya. Sebelum akhirnya hilang tidak berbekas dan Monyet itu hilang begitu saja.

Kehadirannya terhalang oleh saudara sepupu saya yang berdiri di samping saya dan saya pun tidak mempedulikannya, kemudian Sepeninggal kakek, bunga Wijaya Kesuma dirawat nenek. Tanaman yang hanya berbunga setiap bulan purnama itu pun kini mendapat tugas baru. Dia menjadi sesajen yang ditaruh nenek di dalam kamar dan bunganya yang mirip ular naga itu memang mengerikan. Waktu kembali berjalan seperti biasa tidak terasa, 40 hari telah berlalu, kemudian 2 makhluk hitam itu kembali hadir. Kembali, mereka menegaskan komitmennya, “Kami disuruh menjaga kamu.” mengapa saya harus dijaga? Kalau memang benar itu adalah ilmu warisan, mengapa saya yang harus menerimanya bukan cucu-cucu kakek yang lain? Sederetan pertanyaan itu membawa saya menerawang kembali perjalanan masa lalu.

Apakah ada pengaruh antara lama seseorang dalam kandungan seorang ibu dengan kemampuan mempelajari ilmu? Sejujurnya, menurut cerita ibu, saya baru terlahir setelah 13 bulan berada dalam kandungan. Selain itu, sejak kecil pola makan saya berbeda dengan anak-anak yang lain dan sampai berumur 5 tahun, saya hanya mau makan nasi putih yang tanpa lauk dan tanpa sayur-mayur. Kehadiran 2 makhluk di hari ke-40 itu membawa suasana baru, punggung dan kaki saya semakin berat dan rasanya ada sosok lain yang menyatu dalam diri saya. Pada sisi lain, hubungan saya dengan bapak semakin parah, yang sejak kecil, saya memang terkenal sebagai anak yang berani melawan perintah bapak.

Berbeda dengan saudara-saudara saya dan kebiasaan itu pun terus berlanjut bahkan semakin parah, kemudian saya semakin mudah tersinggung. Seperti yang terjadi di suatu siang, setahun setelah kakek meninggal, ada 2 makhluk hitam itu mengeluarkan bisikan yang mematikan di saat saya bersitegang dengan bapak. “Mendingan kamu bunuh saja dia dan Dia itu adalah musuh kamu yang nyata, Bunuh saja.” Emosi saya tersulut. Pisau yang tergeletak di atas meja itu melesat ke tangan saya yang seperti ada medan magnet di tangan yang menarik pisau itu. “Sekarang kamu jalan! Habisi dia” bisikan itu kembali mengarahkan langkah saya. Sebenarnya saya tidak mau melangkah, tapi kaki saya seperti ada yang menggerakkannya, kemudian Satu dua langkah dan saya berusaha mempertahankan diri, tapi dorongan untuk membunuh bapak ltu begitu kuatnya.

Akhirnya, … Astaghfirullaaah, pisau itu pun terlepas dengan sendirinya dan Kalimat istighfar telah mengalahkan bisikan-bisikan syetan itu. Selain bisikan mematikan, kedua makhluk itu juga sesekali memperalat saya, kemudian mereka hadir di dalam mimpi dan minta dimandikan dengan menggunakan perantara badan saya. Mereka minta dimandikan dengan air kelapa hijau setelah Shubuh. Dua buah kelapa hijau pun mengguyur badan saya dan Alhasil, kekuatan yang saya miliki pun semakin tinggi dan teman-teman semakin takut melihat saya. Katanya, tatapan mata saya memancarkan hawa yang menakutkan. Tidak mengherankan bila kemudian tidak ada pemuda yang tahan berpacaran dengan saya lebih dari dua bulan. Tamat SMA, saya diterima bekerja di sebuah toko swalayan, kemudian Di saat itulah saya dikenal sebagai seorang tukang ramal.

Berita itu bermula ketika saya melihat seorang satpam yang sedang pasang togel, kemudian saya perhatikan nomer yang dipasangnya tidak akan keluar. Secara reflek saya menyarankannya untuk merubah nomer pasangannya “Pak, pasang nomor 89 saja. Ntar keluar,” ujar saya spontan. Entah mengapa, satpam itu percaya dengan omongan saya dan dia pun merubah nomornya tebakannya dan Memang, yang keluar kemudian angka 89. Sejak itu, berita sebagai tukang ramal togel pun tersebar dari mulut ke mulut “Kalau mau pasang togel, tanya saja ke Lisa.” Meski tebakan saya benar, tapi saya tidak pernah mau menerima uang pemberian dari hasil judi tersebut. Dengan ringan saya katakan, “Tidak usah”. Selain memberikan nomor togel, sesekali ada juga bisikan dalam hati yang menyuruh saya untuk menolong seseorang. Seperti yang terjadi ketika ada seorang teman kerja yang terkena sihir dan namanya Winda dan Selalu timbul perasaan benci yang tatkala melihat suaminya.

Saya menangkap kesan yang aneh memang, Saya pun mencoba melakukan kontak batin dengan dukun yang mengirimkan guna-guna itu dan ternyata dia adalah seorang wanita dengan perawakan kecil. “Malam nanti jangan tidur di lantai. Akan ada kalajengking dan ular yang datang,” kata saya kepada Winda, kemudian Kata-kata itu terucap begitu saja tanpa saya sadari. Keesokan harinya Winda menceritakan pengalamannya semalam, “Ada kalajengking dan ular yang masuk ke dalam rumah saya,” ujar Winda. Itu bukan kali pertama saya berhubungan dengan dukun dan beberapa tahun silam, seorang dukun selalu datang ke kampung saya 2 kali seminggu dan setiap kali datang, ada saja orang yang datang berobat.

Suatu ketika saya dibawa ibu untuk berobat yang barangkali pingsan yang sering datang itu bisa dihilangkan, kemudian Dukun itu meminta saya untuk menjulurkan kedua tangan. Dia pun menjulurkan kedua tangannya menyentuh tangan saya dan Apa yang tidak diperkirakannya pun terjadi. Ada tarik menarik tenaga dan kedua tangan kami bergetar hebat, Wajah dukun itu membiru, setelah itu dari hidungnya keluar ingus. Sementara saya sendiri tidak mengalami perubahan apa-apa dan akhirnya dukun itu menyerah dan tidak melanjutkan prosesi pengobatan. Sejak itu, dukun tersebut tidak pernah lagi nongol. “Dukun itu kalah sama Lisa,” Begitulah bisik-bisik tetangga yang sempat terdengar.

Perjuangan Melawan 2 Makhluk Hitam Di tempat kerja dengan suasananya yang menyenangkan tetap saja tidak bisa menghilangkan penyakit kambuhan itu. Saya sering pingsan dan nyaris seminggu 2 kali, meski setengah jam kemudian sadar kembali, Tapi tidak urung membuat heboh teman-teman. Lantaran, 6 orang yang mengangkat tubuh saya masih merasa keberatan kemudian dari sini, ada yang mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya. Waktu itu ada yang menyarankan saya untuk mengikuti terapi ruqyah. Saran itu saya biarkan saja, hingga kemudian saya kembali tergerak untuk mengikuti ruqyah setelah melihat sinetron Astaghfirullah. Setelah mendaftar saya mendapat giliran satu bulan kemudian dan Belum seminggu dari pendaftaran, saya kembali dibawa ibu tempat ruqyah, lantaran tingkah laku saya yang menyerupai kera. Saya yang tidak suka dengan pisang berubah total dan satu sisir pisang habis saya lahap sambil mengangkingkan(nangkring) salah satu kaki. Mirip dengan gaya seekor kera yang sedang makan pisang.

Suatu siang ibu memasak air dan sudah satu jam air dimasak, tapi belum juga mendidih, padahal air dalam panci itu semakin menyusut yang tinggal menyisakan sedikit. Ibu yang sudah melihat reaksi saya ketika diruqyah, akhirnya mengambil garam dan menaburkannya ke kompor. Saya yang saat itu berada di dalam kamar, merasakan hawa panas yang luar biasa dan kemudian saya menjerit jerit, “Panas, Panaaas.” saya berlari ke dalam kamar mandi dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam, Meski sudah berendam di kolam, tapi hawa panas itu masih terasa. Selang beberapa saat kemudian, saya pun pingsan dan pada saat tersadar, saya sudah berada di kamar di kelilingi ibu dan kakak saya.

Katanya, mereka terus membaca ayat Kursi disaat saya tidak sadarkan diri dan kemudian hawa panas kembali menyerang, tatkala saya mendengar adzan, atau bacaan al-Qur’an. Seperti yang terjadi suatu siang, ketika saya sedang tidur, adik saya membaca al-Qur’an di samping saya. Tiba-tiba tangan saya bergerak begitu saja menampar adik, tanpa dapat saya cegah, kemudian Adik pun lari tunggang langgang, meninggalkan saya yang sedang kerasukan. Setelah terapi ruqyah, saya semakin tidak bisa menguasai diri, Ada saja yang saya lakukan tanpa sadar. Lari ke jalan atau bahkan menceburkan diri ke dalam kali dan untuk menghindari kemungkinan terburuk, praktis saya selalu dalam pengawasan keluarga. Bahkan saat tertidur lelap pun kakak atau ibu selalu berada di samping saya dan Keluarga saya hidup dalam kekhawatiran.

Takut bila sewaktu-waktu saya berontak dan melarikan diri, Seminggu kemudian, saya mengikuti terapi yang kedua dan Seperti yang pertama saya bereaksi dengan keras saat diterapi, Setelah dua kali mengikuti terapi, keluarga saya berbenah diri. Kakak menyuruh ibu untuk membeli kaligrafi ayat Kursi dan surat al-Fatihah, yang rencananya kaligrafi itu akan dipasang di dinding. Belum sempat kaligrafi itu terpasang, dia sudah robek-robek saya hancurkan, kemudian Saya tusuk-tusuk dengan pisau. Tidak cukup menghancurkan kaligrafi, masakan mama yang masih tergeletak di dapur saya aduk-aduk dan Saya campur dengan sampah. lbu yang saat itu masuk ke dalam terkejut melihat perkembangan yang tidak diduganya, kemudian lbu menjerit melihat saya masih memegang pisau dan siap untuk menghancurkan apa saja.

Sesekali, menurut cerita ibu, saya memasukkan ujung pisau ke dalam mulut dan lbu kembali menjerit memanggil kakak, kemudian jeritan yang menarik perhatian tetangga. Mereka berusaha keras melumpuhkan saya dan Sambil memperdengarkan kaset ruqyah. Akhirnya ibu berinisiatif menelpon kantor ruqyah dan meminta salah seorang ustadz untuk datang ke rumah. Waktu itu Ustadz Ridwan yang datang ke rumah dan pada saat ustadz Ridwan datang, menurut cerita ibu, saya mengatakan bahwa saya sudah sadar. “Sudah deh, saya sudah sadar” Tapi yang terjadi kemudian, saya gunakan kebohongan untuk melarikan diri, kemudian jin yang merasuk ke dalam diri saya membawa saya berlari ke kebon di samping rumah, Seperti seorang pencuri, saya dikejar-kejar kakak bersama warga dan mereka berusaha menangkap saya. Akhirnya saya pun tidak lagi menemukan tempat untuk berlari dan kembali menjadi tertangkap, kemudian setelah beberapa saat diterapi Ustadz Ridwan saya pun tersadar.

Dijemput Kereta Kencana Ratu Suatu hari saat kesurupan jin yang merasuk ke dalam diri saya mengatakan bahwa nanti malam ratu akan datang. Jin itu memperingatkan keluarga saya agar selalu berdoa dan membaca surat Yasin, “lbu harus waspada. Jam 12 malam jangan tertidur dan Tolong jagain Lina, Karena Ratu mau datang,” begitulah kata-kata jin itu seperti ditirukan ibu. Keluarga berada dalam kekhawatiran Mereka yang tidak berani untuk tidur dan selepas shalat lsya’ ibu tidak henti-hentinya membaca surat Yasin dan bapak membaca ayat Kursi dan surat-surat pendek lainnya. Sementara kakak selalu mendampingi saya kemanapun saya melangkah dan tidak ubahnya seorang pengawal. Waktu terus merambat tepat jam 12 malam terdengar bunyi kereta kencana dari atap rumah, kemudian Saya terus membaca surat Yasin dengan air mata berlinang.

Suasana begitu mencekam dan sementara saya sendiri, waktu itu antara sadar dan tidak sadar karena duduk meringkuk di pojok kamar. Suara kereta kencana itu terus terdengar, kemudian Suara gedebak-gedebuk, seperti orang berlari terdengar dari samping rumah. Untuk menghindari kemungkinan terburuk di atas jendela dan lubang angin di taruh Qur’an dan semoga dengan itu akan banyak membantu. kegaduhan suara kereta kencana itupun terdengar oleh tetangga di kanan kiri kemudian Dari mereka keesokan harinya saya dapat cerita bahwa di malam itu, Joni salah seorang tetangga sebelah sempat melihat melalui jendela rumahnya dan Joni melihat sosok seperti kera bertengger di atas pohon. Dia seperti mencari anaknya yang hilang tapi tidak berani masuk ke dalam rumah. Ada beberapa tetangga yang pernah bertanya kepada ibu, kenapa sering terdengar suara anak monyet dari dalam rumah saya? lbu yang mendapat pertanyaan itu tidak bisa menjawab apa-apa dan Ibu hanya terdiam, karena kenyataannya memang begitu.

Kami sekeluarga khawatir bila tetangga berpikiran negatif dan menganggap kami mencari pesugihan kera, Tapi apa boleh buat, saya tidak bermaksud mempelajari ilmu hitam atau ilmu tertentu untuk mencari kekayaan. Jin itu datang dengan sendirinya, tanpa saya undang dan Yang bisa kami lakukan hanyalah mengurangi pertemuan dengan tetangga. Malu, itu saja alasannya. Menurut cerita ibu, saya pernah bertingkah laku seperti kera ketika berangkat ke kantor Ruqyah dan Kalau melihat pohon pisang di sekitar rumah katanya saya ingin memanjat pohon pisang itu, Sampai orang-orang yang melihat merasa kasihan.

“Ya Allah, kasihan banget. Anak ini kok bisa begitu.” Begitulah komentar tetangga yang melihat keanehan saya. Ketika diterapi, jin yang ada dalam diri saya mengatakan, “Salah sendiri kakeknya ngilmu kamu yang kena. Kakek kamu tuh punya Perjanjian.” Kata jin itu lagi. “Perjanjian apa! Yang melakukan Perjanjian itu kakeknya, kenapa cucunya yang kena. Cucunya tidak tahu apa-apa,” sanggah Ustadz. Setelah sekian lama ustadz berdialog dengan jin kera, akhirnya jin itu mau masuk lslam sebelum keluar. Alhamdulillah setelah berkali-kali mengikuti terapi ruqyah, perlahan gangguan jin itu semakin berkurang. Meski pada mulanya seakan meningkat, tapi lama kelamaan menurun juga.

BACA JUGA :

Check Also

Mengalami

Telinga Bagian Dalam Mengalami Gangguan

Anda pernah mengalami pusing dan ruang di sekeliling anda terasa berputar, sehingga tubuh kita terasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *