Home > Cerita Horor > Makhluk Besar Dan Berwajah Menyeramkan Berada Dimesjid

Makhluk Besar Dan Berwajah Menyeramkan Berada Dimesjid

Jin Yang Berwajah Menyeramkan, Berjubah Putih

 

 

Pagi-pagi buta Iwan sudah bangkit dari ranjangnya dan hari ini pertamanya tinggal di kost barunya Jadi, belum banyak orang yang dia kenal. Daerah tempatnya tinggal memang belum begitu ramai. Maklum, cuma di pinggiran kota dan kemudian Masih dalam keadaan setengah mengantuk, Iwan langsung bergegas menyiapkan diri, Tentu saja mau pergi ke masjid. Dia ke masjid mau shalat subuh, jarak dari kost Iwan ke masjid memang lumayan dekat.

Cuma, Iwan harus melewati pematang sawah, yang Kira-kira jauhnya 100 meter, Meskipun suasana masih gelap, Iwan tetap semangat melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, kemudian Iwan semakin mempercepat langkahnya. Dia semakin semangat karena dari kejauhan, dia melihat banyak orang berjalan menuju masjid dan Tentunya mereka mau shalat berjamaah juga, pikirnya.

Iwan memang nggak bisa melihat dengan jelas karena kondisi saat itu masih gelap Yang pasti, dia bisa melihat banyak orang dalam bentuk siluet, berjalan berbondong-bondong menuju masjid dan Mereka terlihat seperti tergesa-gesa jumlahnya banyak. Sangat banyak. Iwan pun terkagum hal-hal seperti ini selalu membuatnya tentram, kemudian Dia tidak menyangka kalo ternyata warga di sini sangat taat beribadah.

Apalagi waktu shalat Subuh, Belum pernah dia mengalami situasi seperti ini, warga dengan kompak melaksanakan secara berjamaah di masjid. Iwan sangat bersukacita dan tidak kalah cepat, Iwan pun ikut tergesa melangkahkan kakinya. Dia sudah tidak sabar bertemu dan berkenalan dengan saudara-saudara seimannya. Dia sama sekali nggak memperdulikan dinginnya angin yang menusuk sendi-sendinya, Dia cuma ingin cepat-cepat sampai di masjid, pandangannya lebih banyak dia habiskan menatap jalanan supaya nggak terpeleset.

Musim hujan membuat tanah yang di injaknya licin dan tidak sampai semenit kemudian dia pun tiba di masjid, kemudian pada saat itu iwan celingak-celinguk kesana kemari, mencari orang-orang yang tadi datang bersamanya. Aneh, mereka tidak ada, Iwan melangkah memasuki masjid. Dia memperhatikan seluruh penjuru ruangan, namun tidak ada seorang pun, lalu Iwan bergidik. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Jelas-jelas tadi dia melihat banyak warga berbondong-bondong berjalan menuju masjid ini, Matanya tidak mungkin salah lihat.

Bulu kuduk Iwan berdiri dan kemudian Dia merasakan suasana yang lain di ruangan ini, Dia masih bertanya-tanya, kemana para warga tadi kalau bukan ke tempat ini? Dia sendiri sudah memastikan tidak ada lagi masjid selain di sini. Sesekali dia memejamkan matanya dan Bibirnya komat-kamit mengucapkan lafal Al-Quran supaya dikasih perlindungan. Setelah menenangkan diri dan mengambil wudhu, Iwan kembali ke memasuki masjid.

Bangunan masjid ini cukup besar, Tapi, sayang kurang perawatan dan Iwan sangat prihatin bagaimana mungkin masjid sebesar ini terlantar begitu saja tanpa ada yang merawatnya, Bahkan, debu-debu di teras pun sudah tebal. Dia semakin percaya, orang-orang yang tadi yang dia lihat mungkin cuma halusinasi saja. Kalo memang benar masjid ini sering dipakai buat shalat berjamaah, paling tidak, tanpa disapu pun debu nggak akan setebal itu karena sering di injak orang.

Iwan mengumandangkan adzan sendirian dan kemudian suaranya cukup lantang meskipun tidak memakai pengeras suara, Suaranya terdengar sangat merdu. Setelah selesai adzan, Iwan mengerjakan shalat sunah dan Sempat dia menengok ke belakang, tidak yau kenapa, dia seperti masih berharap ada orang datang menemaninya shalat. Setelah mengerjakan shalat sunah dan mengumandangkan ikamah, Iwan memulai shalat subuh.

“Allahu Akbar” Iwan berdiri di shaf paling depan sendirian sangat hening dan dingin, Karena shalat subuh, Iwan menyaringkan bacaan shalatnya. Suaranya terdengar menghiasi ruangan sangat merdu, syahdu, dan penuh rindu. Sampai pada waktunya dia melafalkan ayat Al-Fatihah yang terakhir, alangkah terperanjatnya Iwan saat mendengar sahutan.

“Aammiinn” Sahutan itu terdengar begitu menggema, Sangat ramai dan kemudian Ivan mendengar sahutan itu begitu jelas, Begitu nyalang dan meraung. Telinga Iwan seperti disengat listrik mendengarnya, Padahal, dia sangat yakin, tadi dia sendirian. Kalaupun ada orang yang datang, pasti terdengar suara langkah kaki memasuki masjid, tapi ini tidak ada. Iwan bergidik dan Kakinya tiba-tiba terasa kaku, kemudian Semua konsentrasinya hilang ditelan ketakutan.

Bibirnya gemetar, matanya terpejam kemudian Iwan sama sekali belum pernah mendengar sahutan seramai itu, yang Suaranya begitu menggaung dan Mungkin jumlahnya ribuan. Dia seperti sedang menjadi Imam di Masjidil Haram atau Ka’bah, kemudian Dia merasa makmumnya seperti terhampar sejauh mata memandang. Sangat riuh, sangat ramai dan Iwan masih berdiri terpaku, oleh Nafasnya masih menderu dan setelah itu Dia belum melanjutkan ke bacaan berikutnya.

Dia masih shock, matanya masih kuat yang Sejenak kemudian Iwan menghela napas panjang, kemudian Dia berusaha tetap berdiri kuat meskipun lututnya seperti lumpuh. Dia bertekad tetap menyelesaikan shalatnya dan yakin ini pertanda baik, “Mereka” cuma ingin menjadi makmumnya, batin Iwan meraung. Mungkin karena Iwan masih terlalu muda untuk memahami peristiwa ganjil yang dialaminya. Padahal, Rasul pun dulu pernah mengalami kejadian serupa.

Setelah beberapa saat, kondisi Iwan terlihat semakin stabil dan tetap melanjutkan shalatnya, kemudian Dia tetap menyaringkan suaranya meskipun kali ini sudah nggak terdengar merdu, yang Suaranya gemetar diserang ketakutan. begitupun di rakaat kedua, lagi-lagi sahutan itu melolong, Sangat nyaring dan riuh. Sesaat tenggorokan Iwan dibuat tercekat mendengarnya, karena Iwan tidak menyangka ternyata mereka masih ada, masih mengiringi shalatnya.

Tapi, kali ini Iwan terlihat lebih siap yang kemudian Bacaan yang dilafalkannya pun kembali terdengar merdu dan Iwan cukup tegar. Dia benar-benar teguh pada pendiriannya dan Sampai pada tahiat akhir, Iwan menyelesaikan shalatnya. Disela-sela konsentrasinya yang memang sudah terpecah sejak awal, dia sempat berpikir untuk mengetahui bentuk sosok makmum yang mengiringi shalatnya. Dan, itu bisa dilakukan pada posisi salam dan Dia berniat untuk membuka matanya saat menengok nanti.

Lalu, saat yang ditunggu pun tiba. “Assalamu’alaikum warohmatulloh” ucapnya seraya memutar kepalanya ke arah kanan Dan, ketika dia membuka matanya, jantung Iwan dibuat terperenyak melihat penampakan mereka. Sosok-sosok itu ternyata terlihat begitu besar dan Ukuran mereka sepuluh kali lipat lebih besar dari ukuran tubuh orang dewasa. Jelas saja mereka bukan manusia dan Posisi duduk mereka berjajar begitu rapi dan beradab.

Semuanya berjubah putih walaupun begitu, wajah mereka terlihat sangat mengerikan dan Janggut tebal menjuntai, warna kulit gelap. Mata mereka terlihat melotot dengan raut muka tajam seolah hendak menerkam. Kulit penuh keriput kasar dengan bekas codet yang tidak beraturan menyapu wajah mereka, Iwan bergidik hebat. Dia merobohkan tubuhnya seraya menutupi mata dan kupingnya kuat-kuat.

Mulutnya kembali komat-kamit melafalkan ayat Al Quran, kemudian Iwan menangis dan Tubuhnya gemetar seperti orang kesurupan. Sesaat setelah dia sadar makmum-makmumnya menghilang. Dia langsung meninggalkan masjid untuk menghubungi ayahnya di kampung dan Dia sangat mau tahu apa makna di balik peristiwa itu. “Nak, mereka itu adalah jelmaan malaikat dan jin-jin muslim” terang ayahnya. “Sebenarnya kamu sangat beruntung bisa mengimami mereka dan Tidak semua orang bisa mengalami hal yang kamu alami.

Bahkan, seorang ustadz yang tersohor sekalipun.” Lanjut ayahnya lagi. “Yang pernah mengalami kejadian ini dulu cuma Rasul dan kemudian Beliau mengimami ribuan jin muslim di kerajaan mereka”. Iwan menyimaknya dengan saksama, sambil matanya berkaca-kaca, kemudian Kakekmu juga dulu pernah mengimami mereka dan Tidak banyak Hanya beberapa dari kaum mereka.

Tapi, jumlah makmum kamu ribuan, nak. Sesuatu yang sangat langka, kejadian serupa yang dialami Rasul masih terulang, Apalagi yang mengalami ternyata putra Ayah. Tentu Ayah bangga sama kamu nak dan Mudah-mudahan kamu mendapat berkah yang melimpah dari kejadian ini, Iwan tidak sanggup menahan tangis mendengar penuturan ayahnya. Dia mencucurkan air mata seraya bersujud mengucap syukur.

Check Also

Kuda Lumping

Kesenian Tari Kuda lumping Yang di Mainkan Dengan Kuda Tiruan

Kesenian Tari Kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dimainkan dengan menggunakan peralatan yang berupa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *