Home > Cerita Horor > Jimat Aura Dari kain kafan

Jimat Aura Dari kain kafan

Mayat Yang diKafan Keluar Bau Sperma

Ibu, sudah cukup aku malu dengan bisik para tetangga, kita ini muslim dan untuk Apa ibu pergi haji ketanah suci jika ibu masih jadi lintah darat seperti ini? Pintaku pada ibu yang lagi menghitung uangnya. Diam kamu, sudah kamu tidak usah mencampuri urusan ibu, yang penting kamu bisa kuliah dengan adik-adikmu, ayahmu juga sudah lumpuh dan seperti mayat hidup, apa bisa dia memberikan kita kehidupan? Bentak ibuku di pagi buta.

Ya Allah, beri hidayah pada ibuku, bukakanlah pintu taubat ibuku, hanya ini ratapan hatiku yang terus aku lakukan.

Panas banget hari ini, suasana kampus bener-bener membosankan, sudah pelajaran yang sempat memeras otak dan belum lagi dosennya yang super killer, benar-benar suasana yang membuatku merasa jenuh, bisik dalam hatiku.
Kulangkahkan dengan kakiku menuju kerumah, dengan harapan makan dengan lauk yang sudah tersedia dirumah, namun, suara memecah disiang bolong, apalagi kalau bukan ibuku bertengkar dan berkacak pinggang dengan orang-orang yang tidak bisa kembalikan uang yang dipinjam dengan bunga yang aku rasa mencekik leher, suasana ini tidak pernah asing lagi dirumahku, maka itu aku tidak pernah betah tinggal dirumah, namun hanya satu yang masih berat aku tinggalkan dirumah ini, yaitu Ayahku dan adikku dan semua keperluan mereka aku yang penuhi dan persiapkan.

Aku sendiri merasa heran kenapa pembantu dirumah kami tidak pernah ada yang betah sampai 3 bulan, dan keluar masuk gitulah, aku sih tidak heran lagi, karena ibuku yang kejam dan super ceriwis, seenaknya memerintah dan membentak pembantu .
“Ayah, minum obat dulu”,kataku pada ayah yang lagi termenung.
Aku tidak pernah lupa untuk menyempatkan diri yang selalu kekamar ayah, kamar yang diasingkan oleh ibu, bahkan sepertinya ibuku sudah menganggap ayah kami sudah meninggal.

Ayahku lumpuh total, bicarapun sudah tidak bisa lagi, Yang terlihat hanya keriput tua dan lelehan air matanya yang seolah isyarat dia ingin segera diambil nyawanya, untuk memperingan tugasku yang selalu merawat keperluan ayah, Namun aku sebagai anak itu sudah kewajibanku.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 24:00 malam, entah kenapa perasaan ini tidak enak, haus menyerang ditenggorokanku dan kubangunkan tubuhku dengan langkah berat menuju dapur, namun langkahku terhenti mendadak karena aku lihat ada sekelebatan orang menuju kamar ibu,
“Siapa ya?”bisikkku

Apa ibu memasukkan lelaki dirumah kami? Dugaan negatif terus berkecamuk dibenakku, Dengan langkah yang pelan aku dekati kamar ibu, aku merasa ada suara erangan dengan bisik-bisik nakal serta aahhh..
“Astagfirrullah, aku dengar seperti seseorang sedang bercinta, apakah ibuku sedang berzina? bisikku dan kemudian Aku buka pintu itu yang ternyata tidak terkunci, aku teriak sekencang kencangnya.

“Ibuuuuu, apa yang ibu lakukan dirumah ini? sungguh aku jijik melihat tingkah pola ibu, teriakku padanya, Namun apa yang kudapat.
Anak tidak tau sopan santun, main masuk saja kekamar orang tua, tamparan keras mendarat di pipiku.
Aku lari menuju kamarku, aku nangis aku malu dengan kelakuan bejat ibuku, rupanya tanpa sepengetahuanku ibu sering membawa laki laki masuk kekamarnya, akhirnya bisik tetanggapun makin membuat telinga gatal.

Itu ternyata Bu Melisa, selain seorang rentenir juga seorang pezinah, bahkan katanya juga sih pemuja setan, banyak para pemuda yang dikencani namun besoknya sang pemuda jadi seperti orang tua, layu dan sayu-sayu, bisik bisik tetanggaku.
Aku berjalan dengan langkah cepat, aku malu para tetangga seolah ikut juga memusuhi aku, padahal aku tidak pernah tau apapun semua ini, aku lihat rumah dalam keadaan lenggang, sepi, dikesempatan ini aku beranikan memasuki kamar dimana yang selalu dikunci oleh ibu, aku tidak kehabisan akal, aku buka paksa dengan berbagai cara untuk bisa tahu apa yang terjadi dikamar sehingga ibu mengkunci kamar ini dan tidak ada yang boleh masuk kecuali ibu sendiri.

Akhirnya usahaku tidak sia sia, tiba-tiba aku melihat kamar itu semua yang serba hitam, mulai dari seprei warna tembok, dan ada cermin yang kelihatan sudah tua, serta bau dupa dan aroma mistik langsung menyergapku, tanpa sengaja mataku tertuju pada lemari di pojok kamar yang berada dikamar ibu, dengan sedikit perasaan was-was aku buka. Masya allah rupanya uang dengan bertumpuk-tumpuk aku lihat disana serta lempengan emas dan berlian, begitu banyakkah harta ibuku?? bisikku seolah tidak percaya.

Aku masih terus menyulusuri kamar ibu, dan kini perhatianku tertuju pada sebuah meja kecil bersusun disana ada toples kecil yang ternyata isinya seperti bulu, dan rambut, namun aku tidak tau apa maksudnya itu semua? Didalam kamar itu aku terus berkumandang asma-asma Allah dan ayat kursyi aku bacakan, karena aku merasakan ada sesuatu yang sepertinya terus mengawasiku, dan aku temukan juga kain putih yang kumal tersimpan dalam kotak tua, apa ini?? aku amati, baunya busuk banget, namun aku bawa keluar dengan harapan mau aku cuci, mungkin ini kumal hingga perlu aku bersihkan, mengingat ibuku tidak sempat kali untuk mencucinya.

Aku keluar dari kamar itu dan aku bawa kain putih itu, untuk aku rendam di bak dengan harapan mudah untuk membersihkannya, tiba-tiba saja ada telepon rumah berbunyi, mengagetkan aku, dan kemudian langsung aku sambar gagang telepon tersebut.
“Halo selamat siang? tanya si penelpon
“Iya, siang juga”
“Apa benar ini rumah ibu Melisa?”
“iya benar, saya anaknya”
“Kami dari kepolisian , mengabarkan ibu anda kecelakaan dan meninggal dunia, segera datang kerumah sakit, kami tunggu”
“Masya allah, aku nangis histeris, ibuuuuu” ratapku sendirian
Kupacu secepatnya mobil agar segera sampai, dan aku lihat ada polisi sudah menungguku, kemudian aku diantar kekamar mayat untuk memastikan, apakah ini benar ibuku?

Ya Allah, ternyata benar dia ibuku, kondisinya hancur kepala remuk, mobil ibu bertabrakan dengan truk yang sama-sama melacu kencang dari arah berlawanan, aku kuatkan diri ini, adikku pun terus menangis, bahkan aku lihat ayah juga meneteskan air matanya.
Acara prosesi pemakamanpun akan segera berlangsung, namun ada kejanggalan waktu jenazah ibu dimandikan, Maaf dari lubang dari kemaluan ibu sepertinya terus menerus mengeluarkan cairan putih. Kami sudah bersihkan berulang ulang kali, namun masih saja keluar lagi dan ada seorang ustadah yang memberitahukan sudahlah mungkin ini sudah kehendak Allah, setelah aku amati lagi, cairan putih itu seperti sperma.

Aku terus mengikuti prosesi dan setelah dimandikan, aku ikuti juga waktu dikafani, MasyaAllah, ada lagi kejadian yang membuatku heran muka ibu dan tubuhnya juga mengeluarkan cairan putih itu. Bahkan kain kafan yang mau terbungkus dimana masih baru, tapi dipenciuman orang seperti bau bangkai, aku sendiri juga menciumny. Dan ada akhirnya kami beli lagi hingga kain kafan yang ke-4 pun tidak jauh beda, setelah menempel ketubuh ibu. Bau kain kafan itu langsung berubah busuk dan aku terus menangis, antara meminta pengampunan pada Allah atas kelakuan ibuku dan aku juga malu pada tetangga yang ikut merawat jenazah ibuku.

Akhirnya jenazah pun dikebumikan dan seorang ustadah mengikuti aku sampai rumah, disanalah aku juga menceritakan semua kejadian yang aku alami dan kamar yang aku temukan.
“Mana kain yang kamu cuci itu?” tanya ustadah tersebut
“Ada bu, sebentar saya ambilkan”
“Ini bu, kainnya lalu aku berikan kain itu yang sudah aku setrika rapi
Masyaallah nak, ini bukan kain biasa, tapi ini jimat kain kafan yang entah dimana yang diperoleh ibumu dan pada siapa ibumu pernah berguru? Baiklah saya akan ceritakn sedikit yang pernah saya tau, kain kafan ini bisa mendatangkan kekayaan dengan cara memuja pada setan/jin dan dapat melancarkan segala usaha, namun kain kafan ini akan hilang khasiatnya jika ditemukan orang dan dicuci, dan disitulah awal petaka bagi pemujanya,”ini cerita dari bu ustadah

Ya allah, ampuni ibuku, waktu beranjak siang, bu ustadah berpamitan dan memberiku wejangan agar aku kuat dan pertebal imanku, nanti malam katanya dia akan datang lagi bersama kyai yang akan membantuku, karena aroma mistik masih menyelimuti rumah kami.
Aku beranikan memasuki kamar itu lagi, aku buka lemari yang berisi uang bertumpuk tumpuk itu, dan sedikitpun aku enggan untuk mengambilnya. Aku buka ada laci kecil dan aku temukan sebuah buku tua, sepertinya buku ajaran sesat yang ditulis mungkin oleh guru ibuku.
Aku bawa buku itu dan aku baca yang tertulis disana

Dengan kamu bersetubuh tiap hari senin dan kamis maka kamu akan awet muda serta hartapun akan terus bertambah serta nilai kewibawaanmu pun akan bertambah, takkan ada orang yang berani melawanmu dan menentangmu, itulah aura kain kafan itu. Maka itu saat kamu bersetubuh, mintalah pada lawan mainmu untuk membuang spermanya dikit ketubuhmu dan kamu ambil sedikit kamu usap kemuka dan yang masih menempel ditubuhmu. Usapkan dengan kain kafan yang telah kamu peroleh dariku, disanalah dari sperma mereka kamu telah menghisap auranya lewat kain kafan itu, maka lawan mainmu akan tampak layu karena auranya telah kau ambil.

Ya Allah, sedemikian jijiknya aku membaca buku itu, ternyata ini yang dilakukan ibuku selama ini dan malam sudah menyapa bacaan tahlil bergema dirumahku. Setelah acara tahlil usai aku memberanikan diri berbicara pada para tetangga yang hadir di acara tahlilan. Kemudian Aku meminta maaf atas nama ibuku dan membebaskan hutang serta melunaskan hutang jika ada yang masih punya tanggungan hutang ke ibuku, nampak ucapan dari mereka Alhamdulillah, terima kasih nak.
Satu persatu tetangga berpamitan pulang, kini tinggal aku dan kyai serta bu ustadah, aku tunjukkan buku yang aku temukan tadi dan kain kafan itu, dan kemudian aku memberikan ke pak kyai.
“Astagfirullah hal adzim, begitu laknat setan menjerumuskan umat manusia yang tipis imannya, padahal ibumu sudah berhaji, rupanya hanya buat kedok belaka. Saya masih mencium aroma panas dan mistik dirumah ini, baiklah akan saya mulai membacakan doa dan menyempurkan ibumu” kata pak kyai.

Suasana bener-bener mencekam, entah aku diliputi perasaan yang teramat takut, namun ketakutanku itu tercium oleh bu ustadah beliau menggenggam tanganku, baca ayat-ayat semampumu dan Kita ini punya Allah yang akan melindungi kita semua. Kita berkumpul diruang tengah dimana aku lihat pak Kyai duduk di tengah dan aku serta bu ustadah serta ayahku dimana dengan kursi roda dan adikku semata wayang juga aku rangkul dia teramat takut, maklum adekku masih SD. Namun pak Kyai tahu beliau menyuruh adekku agar tertidur, kami semua berkumpul dan dilingkari oleh asma pak Kyai. Jika ada suara-suara dan bunyi apapun diminta jangan sampai keluar dari batas yang sudah ditentukan pak Kyai.
“Bismillah, ayo semuanya baca doa juga yang dipinta oleh pak Kyai.

Aku terus membaca ayat kursi sambil kaki bersila serta ayah juga dan aku lihat adikku tertidur pulas disebelahku, tiba-tiba suasana mencekam dari kamar ibuku tiba-tiba terbuka. Aku sangat terkejut, masyaallah aku takut, aku lihat pocong ibuku keluar dari kamar tersebut dengan kondisi yang terkoyak amburadul, aku seolah menangkap bisiknya,

Nak, kesinilah kemarikan kain kafan itu, mana ibu butuh itu dan aku semakin takut kemudian pocong ibu terus mendekat kepada kami, tapi Pak Kyai terus berdoa dan aku dengar beliau berkata jangan digubris kata-katanya, dan jangan kamu lari kepadanya, dia bukan ibumu, dia iblis yang menyerupai ibumu. Aku terus berdoa dengan perasaan takut dan menghiba, aku lihat bagaimanapun dia ibuku, aku ingin memelukknya namun ada juga perasaan takut luar biasa, pocong itu terus mendekat namun sepertinya ada dinding yang tidak bisa tertembus untuk mendekatiku. Pocong itu terus berganti memanggil ayahku, mas, bantu aku mana kain kafan itu berikan padaku, pocong itu berusaha mendekati ayahku, namun gagal juga, mungkin inilah yang yang disebut sudah dipagari sama pak Kyai.Wahai iblis yang menyerupai manusia, kembalilah kewujudmu, atau akan aku bakar kamu dengan ayat-ayatnya, rupanya pak Kyai terus membaca doa-doa. Masyaallah pocong ibu berubah menjadi api yang melingkar dan melayang namun seolah berkata, meminta kain kafan itu, dan Pak Kyai dengan cepat membakar kain kafan yang tadi aku berikan dengan buku nya. Aku dengan juga pak Kyai membaca doa serta ayat kursi yang terus bergema dari mulutku, dan bu ustadah. Alhamdulilah tiba-tiba lingkaran api itu seolah melengking teriak dan berubah asap yang terus hilang entah kemana, serta bau angus menyeruak diruangan itu, kain kafan dan buku itu telah jadi abu karena di bakar pak Kyai.

Aku dengan lirih seolah suara ibuku, untuk menjaga dan merawat adikku, dan aku juga mengajak pak ustad kekamar yang tadi sempat terdengar ledakan, rupanya tolples yang berisi rambut dan bulu itu pecah berhamburan entah siapa yang memecahkannya. Aku tunjukkan pada pak kyai dimana ada uang serta harta ibuku, dan masyaallah Pak kyai sendir heran kenapa uangnya tidak hangus, biasanya kalau orang pemuja, yang pemujanya wafat hartanya pun pasti akan ikutan ludes. aku sentuh uang itu dan harta itu, dan aku wakafkan semuanya pada panti-panti asuhan dan jompo serta pada anak yatim, aku serahkan pada mereka semua serta hanya berharap doa-doa dari mereka bisa menebus dosa ibuku, dan melapangkan jalannya.Sekian kisah ini kami sampaikan.

Check Also

Pagi Hari

Sangat Bahaya Tidur Pagi Sebelum Jam 11.00 Pagi

Bahaya tidur pagi sebelum jam 11.00 atau di Pagi hari sangat penting untuk kita ketahui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *