Home > Cerita Horor > Hantu Tanpa Kepala Membunuh Warga

Hantu Tanpa Kepala Membunuh Warga

Pertigaan Tanjung Kahayan karena terkait misteri Pertigaan Tanjung Kahayan di Bontang, Kalimantan Timur yang super seram. Suatu daerah angker yang dihuni oleh Hantu Puyang, hantu tak berkepala yang bukan saja menakut-nakuti manusia, tapi sudah membunuh tiga orang korban.

Di sini ada rumah bangunan tua abad 18, awalnya ditinggalkan oleh penghuninya. Rumah itu tidak diketahui siapa pemiliknya, namun terdaftar sebagai orang yang bernama Zuares van Royen, seorang pejabat Belanda jaman pra-kemerdekaan, yang mengepalai pengeboran gas daerah Bangkiang, Bontang Selatan.

Hantu itu apa sih? “Mana ada hantu di dunia ini, yang ada adalah setan, Malaikat dan jin. Buku kitab suci menyebut hal itu dan aku wajib mempercayainya. Tetapi soal hantu, apa itu hantu, mana ada sih itu hantu?” kataku, dalam suatu diskusi kecil di dalam keluarga kami. Hampir sama dengan pendapatku, adik bungsuku yang duduk di fakultas kedokteran Trisakti Jakarta, Akmal Banderas, tidak juga mempercayai hantu itu. Apalagi dia calon dokter, yang pernah ikut jadi koas membedah tubuh manusia dalam suatu operasi, yang meyakini teori hidup dengan jantung.
Seseorang akan mati klinis jika jantungnya berhenti berdetak.

Jantung berhenti berdenyut bila ada penyumbatan pembuluh darah, penyempitan atau suplai oksigen yang minim hingga menyebabkan terjadinya disfungsi jantung. Lalu, jika disfungsi jantung terjadi, maka tewaslah manusia yang mengalami kasus seperti itu.

Dalam ilmu kedokteran, tidak dikenal istilah hantu, Atau katakanlah manusia yang telah mati lalu hidup lagi, mengambang, mengawang dan menjadi hantu. Belakangan ini, heboh soal menampakan Hantu Puyang, hantu tanpa kepala yang memakan korban nyawa Sudah banyak korban yang mati misterius di Pertigaan Simpang Kahayan. Peristiwa itu dialami oleh beberapa orang pula yang sempat hidup, yang melihat langsung sosok Hantu Puyang yang mengerikan. Hantu tanpa kepala, berjas hitam dan bersepatu laras panjang hingga ke dengkul.

“Hantu Puyang itu bukan sekadar menakut-nakuti manusia, tapi membunuh. Hantu itu menghuni rumah tua milik Van Royen dan siapapun yang masuk rumah itu, akan diserang olehnya. Lima paranormal dan Jakarta sudah menyerah, mereka pulang kembali ke ibu kota tanpa membawa hasil,” ungkap Romzi Sukardi, kepala desa Bontang Selatan, kepadaku, saat dia berkunjung ke rumah kami di Balikpapan.

Kepala Desa itu yakin betul tentang adanya Hantu Puyang itu. Sebab neneknya, Amidah Dahlan, meninggal dunia karena dicekik oleh Hantu Puyang. Maka itu, keturunan nenek Amidah, termasuk Pak Romzi Sukardi, menjadi sangat dendam kepada Hantu Puyang di Bontang Selatan tersebut.

Sebagai mahasiswi pendidikan birokrat dalam negeri, aku mesti berhasil mengungkap tentang eksistensi Hantu Puyang di Kalimantan Timur tersebut. Bahkan, aku akan menjadikan kasus mistik ini sebagai disertasi, bahan reset ilmiah yang kelak akan dimasukkan ke dalam skripsiku untuk mengambil ijazah strata satu.

Dengan Toyota hardtop milik ayahku, aku berangkat berempat dengan saudara sepupuku dan Balikpapan menuju Bontang. Jarak tempuh yang kami harus lalui adalah sekitar 120 kilometer, melewati Kota Samarinda, Samboja dan Sangsanga. Operasi menyelidikan Hantu Puyang itu kami lakukan pada malam hari, pada malam itu adalah Jum’at kliwon, malam keramat yang konon saat itu Hantu Puyang menghebohkan itu keluar sarang.

Aku, Rudi Setiawan, Willy Santoso dan Raditya bersiap dengan segala resiko untuk menghadapi makhluk gaib yang sangat dipercaya masyarakat tentang keberadaannya itu. Kami sepakat bahwa apapun resiko yang kami temui haruslah dihadapi dengan kepala dingin.

“Saya yakin hantu puyang itu tidak ada, saya yakin seribu persen bahwa makhluk yang namanya hantu itu tidak ada di muka bumi ini, Korban yang katanya diserang hantu itu, hanya isapan jempol belaka. Mungkin karena sakit jantung maka korban mati, bukan karena dicekik Hantu Puyang itu. Tidak ada itu hantu puyang, maka saya berani ikut dalam operasi ini, saya yang akan berada terdepan di rumah tua yang katanya sarang hantu tersebut,” ujar Rudi Setiawan, kepada kami.

Mungkin karena dia sarjana ekonomi yang selalu bicara realita angka-angka, maka Rudi Setiawan ini tidak pernah percaya akan adanya eksistensi hantu di negeri ini.
“Kalau bangsa jin, saya percaya, setan, memang ada, malaikat, pasti ada karena sesuai dengan isi Al Qur’an, kitab suci kita, bahwa tiga makhluk itu keberadaannya memang diakui, Allah menyebut makhluk-makhluk tadi,” terang Rudi Setiawan.

“Nah, hantu, apalagi Hantu Puyang yang tidak berkepala itu, di mana tempatnya? Al Qur’an dan kitab suci agama lain pun, tidak menyebut Hantu Puyang,” tambah Rudi Setiawan, saudara misanku yang berambut kribo itu.
Cerita Mistis Misteri Kisah Hantu Nyata Alam Gaib Menguak Hantu Pembunuh Di Tanjung Kahayan
Willy Santoso tertawa mendengar keterangan Rudi Setiawan ini, Sebab dia juga berpendapat sama, bahwa hantu itu sebenarnya di mana tempatnya. Bangsa apa hantu itu dan siapa sebenarnya yang dikatakan hantu, apalagi hantu Puyang dan konon telah banyak memakan korban nyawa tersebut. Begitu juga dengan Raditya juga tidak yakin adanya hantu di bumi ini. Bahkan dia berani memastikan bahwa Hantu Puyang yang angker itu hanya omong kosong belaka. Isapan jempol orang-orang penakut.

Sama seperti mereka, aku pun sangat ragu akan eksistensi hantu. Baik itu hantu pocong, hantu begu ganjang maupun Hantu Puyang.Tapi sebagai mahasiswi semester akhir yang ingin menjadikan cerita rakyat ini sebagai bahan skripsi, maka aku tertarik untuk berburu, setidaknya dapat mengetahui barang sedikit dan keterbatasan referensi yang tersedia mengenai hantu tersebut.

Setelah berjalan dengan Toyota hardtop selama 3 jam dari Balikpapan, sampailah kami di Pertigaan Kahayan. Hari sudah gelap dan kumandang adzan maghrib telah kami dengar dan kejauhan. Hutan kayu angsana, mahoni dan jati memenuhi jalanan sekitar Simpang Tiga Kahayan. Daerah itu masih dalam kondisi hutan lebat. Cuma anehnya, mengapa rumah beton antik itu dibangun oleh Van Royen di situ. Di tengah hutan belantara Pertigaan Kahayàn yang sunyi.

“Kamu ini bagaimana sih, waktu Van Royen membangun rumah besar ini terjadi pada abad 18 lalu, pada tahun 1789 masehi, saat di mana daerah ini belum memiliki jalan, masih hutan lebat dan di sekitar rumah ini ada sumber gas, minyak dan juga emas sekaligus. Untuk itulah, maka Van Royen dan pemerintah Belanda membangun rumah itu. Selain sebagai rumah pribadi Van Royen yang ahli drilling, pertambangan, tapi rumah itu juga dijadikan tempat menampung semua tenaga kerja On shore dan perusahaan minyak Belanda jaman itu,” terang Human, serius.

“Kenapa harus membahas sejarah keberadaan rumah ini sih? Yang perlu kita bahas adalah benar apa tidak adanya penghuni gaib rumah ini, apa yang dinamakan oleh warga sebagai Hantu Puyang sang pembunuh sadis itu,” kataku, memotong.
Karena suaraku sudah bernada marah, maka ketiga saudara ku itu menjadi takut, lalu mereka bertiga bersiap melakukan operasi yang pertama di rumah tua itu. Ketiganya buru-buru mengeluarkan tas, tenda dan alat-alat operasi seperti senter besar, senapan, kawat jebakan dan tali temali.

Setelah adzan berhenti dan qomat terdengar, kami lalu sholat maghrib. Kami mengambil wudhu dan air mineral lima galon yang kami bawa di dalam mobil. Satu galon kami jadikan sebagai air untuk sholat dan yang lainnya dibutuhkan untuk masak nasi, mencuci dan minum. Bila semua itu habis sementara operasi Hantu Puyang belum kelar, maka kami akan pergi ke Kota Bontang untuk berbelanja.

Di Bontang banyak super market besar yang bisa kami jadikan sasaran untuk menyegarkan perbekalan selama operasi. Dari Pertigaan Kahayan ke Bontang, hanya membutuhkan waktu 40 menit, jaraknya hanya 30 kilometer, melewati jalan burik yang berlobang dalam.

Habis sholat maghrib, kami makan malam. Ada nasi yang kami siapkan matang dan lauk rendang, ikan balado serta ayam bakar yang kami beli di Samarinda. Kami menyalakan lampu senter charger yang paling besar, 20 watt lalu kami menikmati sajian makan malam dengan santai.

Sementara itu, keadaan sekitar tenda kami tiba-tiba menjadi sepi, sunyi dan bisu. Tidak terdengar lagi suara speaker mesjid terdekat dan tak ada kendaraan yang melewati Simpang Tiga Kahayan.
Malam semakin gelap dan semakin sepi dan Kayu-kau besar dengan pepohonan rindang, tiba-tiba ditiup angin dengan deras. Dedaunan terdorong ke sana kemana-mana karena deras dan kencangnya angin malam Kalimantan Timur menerjang. Setelah kami sholat isya’, kami mengheningkan cipta dan tidak berbicara sepatah katapun.
Pada saat kami merenung, mengheningkan cipta dan membaca mantra-mantra, tiba-tiba terdengar suara gedubrak keluar dari dalam rumah tua. Brugkk, bunyinya, seperti ada benda besar yang jatuh menimpa lantai rumah van Royen itu. Kami berempat terkejut, tersentak lalu saling melihat satu sama lain.

“Suara apa itu?” tanyaku, yang disambut gelengan kepala oleh tiga saudaraku. Rudi Setiawan yang sok pemberani, langsung berdiri dan mengambil senter, lalu masuk ke dalam rumah tua itu melewati jendela depan.
Dengan berani dia membuka jendela dan masuk ke dalam, ke arah sumber suara yang berisik. Tidak lama kemudian, Raditya mengikuti dari belakang, sambil memegang golok dan senter besar, yang seakan siap bertarung melawan siapapun malam itu yang menantangnya berkelahi.

Urutan ke tiga, adalah Willy yang membawa senapan laras panjang serta pistol FN pinjaman perbakin di pinggangnya. Willy memang anggota Perbakin dan dia mendapatkan ijin untuk membawa senjata api berikut penggunaannya.
“Ini memburu hantu kok kayak memburu babi di hutan kelapa sawit,” celoteh Willy, mendumel.
Tidak berapa lama setelah Rudi masuk, dan Rudi Setiawan berteriak keras, menjerit dan kemudian suaranya hilang mendadak seakan ada sesuatu kekuatan yang menyumbat mulutnya.
“Ada apa Rud?” teriak Willy dan Raditya. Mereka berdua segera menyusul ke dalam rumah tua dan melihat Rudi Setiawan telah terkapar berlumuran darah. Lehernya nyaris putus dan biji matanya keluar kedua-duanya, Rudi pun mati di tempat.

Jantungku berdetak kencang melihat kenyataan mengerikan ini. Di balkon atas, setelah terkena sinar senter, seorang sosok mirip manusia tanpa kepala, memegang kepalanya dan menggunakan pisau belati tajam. Mata kepala yang dipegang, menatap tajam kepada kami sambil berkomat kamit seakan sedang membicarakan sesuatu kepada kami.
Willy mengokang senjata FN lalu menembak makhluk itu dan Sosok itu ternyata mempan peluru dan peluru itu lalu ditangkapnya kemudian dilempar kembali kepada kami. Lemparan peluru itu mengenal mata Willy dan Willy pun tidak bisa melihat lagi. Saat itu juga, makhluk yang saya yakini dialah Hantu Puyang, turun dari balkon dan mengejar kami. Aku berlari keluar rumah tua dan mendekati tenda.
Sementara Willy dan Raditya langsung dicekik dan salah seorang ditusuk dengan belati yang tajam. Kedua saudaraku itupun, mati di tempat.

Misteri Kisah Nyata Hantu Seram Pembunuh Di Tanjung Kahayan

Karena ketiga saudara ku mati, aku segera memacu kendaraan Toyota Hardtop menuju jalan raya. Dan situ aku memacu cepat mencari kantor polisi terdekat. Aku menemukan kantor Polsek Bontang dan Kapolsek, seorang pangkat AKP, membawa empat anak buahnya menyisir rumah tua milik Van Royen.
Di rumah itu, kami menemukan tiga jenazah saudaraku tergelatak dan jenazah itu segera dibawa ke rumah sakit Umum Bontang Kuala. Malam itu juga mayat diotopsi dan aku gemetar ketakutan, dan pada saat Ayahku, orangtua Willy, orangtua Raditya dan Orangtua Rudi datang dan menyesalkan kejadian ini.

“Kalian sok tahu sih, sok rasional tidak percaya adanya Hantu Puyang yang takut-takuti warga itu, ternyata, hantu itu memang ada dan akibatnya, 3 nyawa melayang secara sia-sia. Nah, sekarang, masih belum juga kau percaya akan adanya Hantu Puyang itu?” bentak ayahku, kepadaku Yang tersudut di pojok forensic rumah sakit, dan aku pun menangis menyesal.

“Sudahlah Pak, cukup, Pak, jangan dimarahi lagi anak Bapak, sebab dia masih shock. Stress berat menghadapi kejadian besar ini,” kata AKP Sanija Ahmad, Kapolsek Bontang Selatan, meminta ayahku agar menghentikan kemarahannya yang membabi buta itu.

Kini, sudah 2 tahun peristiwa itu berlalu, Namun rasa trauma, fobia, masih terus menyelimuti diriku. Setiap saat menjelang tidur, aku membayangkan sosok hantu Puyang tanpa kepala yang pembunuh itu. Kini, seribu persen, aku percaya akan adanya Hantu Puyang, yang ternyata makhluk bangsa setan yang menyerupai sosok orang yang mati beberapa ratus tahun lalu.

Hantu Puyang di rumah tua Simpang Tiga Kahayan, dekat Bontang itu, tak lain adalah hantu Suarez Van Royen, hantu ahli perminyakan, pakar drilling asal Hiversum, Belanda yang meninggal terbunuh di rumah pribadinya itu.Konon, pembunuh Suarez van Yoyen yang campuran Paraguay Eropa Barat itu, adalah penduduk setempat dalam tragedi perang dengan suku terasing yang mengamuk wilayah mereka digangu oleh Van Royen. Hantu Puyang Van Royen itu justru menuntut balas kepada manusia setempat, siapapun orang yang melintas atau bahkan masuk ke rumah angkernya. Keramat yang mega keramat dan super angker di Kalimantan Timur tersebut.

Check Also

Strategi Dan Tips Bermain Di Agen Poker Terpercaya

Strategi Dan Tips Bermain Di Agen Poker Terpercaya

STRATEGI DAN TIPS BERMAIN AGAR MENANG DI AGEN POKER TERPERCAYA Strategi dan Tips Bermain Di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *